Rabu, 14 Juni 2017

JEAN PAUL SARTRE



Filsafat Eksistensialisme

Jean-Paul Sartre (lahir di Paris, Perancis, 21 Juni 1905 – meninggal di Paris, 15 April 1980 pada umur 74 tahun) adalah seorang filsuf dan penulis Perancis. Ialah yang dianggap mengembangkan aliran eksistensialisme. Sartre menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi (L'existence précède l'essence). Artinya, manusia akan memiliki esensi jika ia telah eksis terlebih dahulu dan esensinya itu akan muncul ketika manusia mati. Dengan kata lain, manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya pada masa lalu. Karena itu, menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia (L'homme est condamné à être libre). Manusia menurut Sartre ialah sebagai berikut :
1) Eksistensi Mendahului Esensi
Eksistensi mendahului esensi (Existence comes before Essence) merupakan salah satu konsep penting dalam bangunan eksistensialime Sartre. Apa yang sekiranya dimaksudkan Sartre dengan konsep ini? Sartre sejatinya berupaya mengukuhkan subjektivitas manusia dan di sisi lain menendang jauh-jauh keberadaan Tuhan dengan segala argumentasi yang menyokongnya. Subjektivitas manusia dan keberadaan Tuhan seperti berada pada polaritas yang berbeda dan saling meniadakan. Untuk mengukuhkan subjektivitasnya, manusia mesti menyingkirkan Tuhankarena subjektivitas tak pernah bertoleransi dengan segala bentuk determinisme.
Untuk menjelaskan konsep eksistensi mendahului esensi, Sartre memulainya dengan memakai contoh pembuatan pisau kertas (paper-knife) oleh seorang artisan. Apa yang terlebih dahulu exist tentu bukan produk material pisau, tetapi segala konsep tentang pisau entah bentuk, cara pembuatan, maksud dan cara penggunannya. Konsep ini bercokol dalam benak artisan sebagai pre-existent technique. Tapi logika ini adalah logika esensi mendahului eksistensi, jalan berpikir yang tidak bisa dikenakan pada Tuhan yang de facto tidak bereksistensi. Ketika menyebut Tuhan sebagai Pencipta, sebetulnya kita sedang mengenakan pada Tuhanmodel kerja seorang artisan. Ketika menciptakan manusia, kita menganggap bahwa dalam benak Tuhan telah bercokol berbagai konsep tentang esensi manusia entah kodrat manusia sebagai makhluk rasional, citra Tuhan, ens sociale, dan sebagainya.
Konsep seperti inilah yang ditentang Sartre melalui eksistensialisme ateistiknya: “Oleh karena Tuhan tidak exist maka setidaknya ada satu makhluk yang eksistensinya mendahului esensinya, makhluk yang ada sebelumnya dapat dibatasi oleh konsep-konsep tentang eksistensinya. Makhluk itu adalah manusia.” Dengan tesis inilah, Sartre menegaskan hakikat manusia sebagai being yang eksistensinya ada sebelum esensinya. Di sisi lain, keberadaan Tuhan dibatasi oleh berbagai definisi manusia tentang eksistensinya sendiri. Artinya, Tuhan ada sejauh manusia mendefinisikannya atau tegasnya,Tuhan melulu merupakan ciptaan atau buah pengatribusian oleh manusia saja.
Sampai di sini, pertanyaan yang mendesak diajukan adalah profil manusia macam manakah yang dimaksudkan Sartre dengan ‘manusia yang bereksistensi sebelum esensi?’ Pertama, Manusia sebagai Adalah. Eksistensi mendahului esensi berarti bahwa “manusia pertama-tama itu ada, menjumpai dirinya, mentas ke dalam dunia dan kemudian mendefinisikan siapa dirinya.” Manusia bukan apa-apa sebelum ia menjadi apa yang dikehendakinya sendiri untuk menjadi. Dengan kata lain, pada awal keberadaannya manusia tidak mengenakan definisi apapun tentang dirinya. Dalam arti inilah, Sartre menolak segala konsepsi tentang kodrat manusia sebab tidak ada Tuhan yang memiliki konsepsi apapun tentang manusia. Sebagai makhluk yang bereksistensi sebelum esensi, manusia tidak terikat atau terbelenggu pada berbagai pasokan definisi tentangnya. Manusia berkebebasan menentukan sendiri siapakah dirinya. Manusia ibarat buku tulis kosong yang kemudian di sepanjang hidupnya menyusun isi bukunya dengan tulisan-tulisan tangannya sendiri. Manusialah yang membentuk dirinya sendiri. Itulah sebabnya, Sartre menyebut manusia sebagai adalah (Man simply is). Manusia selalu terus-menerus bergerak maju memformulasi dirinya.
Pada titik ini kita menemukan nilai intrinsik tanggung jawab dalam kemanusiaan manusia. Sartre berujar “Manusia bukan apa-apa tetapi apa yang ia lakukan pada dirinya sendiri.” Artinya, manusia sepenuhnya adalah apa yang ia kehendaki sendiri. Dalam arti ini, Sartre hendak menegaskan bahwa sejak keberadaannya, setiap manusia memikul tanggung jawab untuk menentukan dirinya sendiri dalam ruang kehidupannya masing-masing. Dengan demikian, pengaruh pertama eksistensialisme menurut Sartre adalah menempatkan setiap manusia pada kepemilikan atas dirinya sendiri sebagaimana adanya dia, dan menaruh seluruh tanggung jawab atas keberadaannya di atas pundaknya sendiri. Maka karakter kedua manusia versi Sartre adalah manusia yang bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.
Sampai di sini bukankah kita mendapatkan kesan bahwa manusia Sartrian adalah subjek-subjek tertutup yang semata-mata bertanggung jawab atas dirinya sendiri, yang keberadaannya melulu bernilai untuk dirinya? Di manakah letak tanggung jawab terhadap sosialitasnya? Untuk mengatasi ekstremitas kesan ini, Sartre berupaya membuat dua arti berbeda terhadap konsep subjektivismenya. Subjektivisme di satu sisi berarti kebebasan individual subjek yakni kebebasan dalam memilih dan menentukan hidupnya sendiri. Di sisi lain, termuat arti bahwa manusia tidak dapat melampaui subjektivitas manusia. Ketika manusia memutuskan memilih sesuatu dalam konteks mewujudkan dirinya tentulah ia memilih apa yang bernilai baik untuk dirinya dan dengan sendirinya pilihan itu bernilai baik untuk sesamanya. Dalam arti inilah Sartre melihat letak tanggung jawab individualitas seseorang pada sesamanya. Oleh karena itu, manusia Sartrian bukan saja bertanggung jawab atas hidupnya sendiri tetapi juga bertanggung jawab atas kemanusiaan sesamanya.Meskipun menurut saya, konsep ini menyisakan celah untuk dipersoalkan. Bukankah keputusan bernilai sedemikian subyektifnya sehingga tidak bisa diberlakukan secara objektif?

2) Humanisme Radikal
Sartre juga mengemukakan konsepnya tentang humanisme. Humanisme Sartrian pertama-tama berkarakter radikal karena menyingkirkan sama sekali nilai-nilai yang diproduksi oleh kepercayaan kepada Tuhan pun segala norma yang terkait dengannya. Hanya dengan begitu, setiap manusia dapat menemukan ruang untuk berkreasi menghasilkan nilai-nilai yang digumulinya dalam hidup. Dengan kata lain, penyingkiran Tuhan adalah satu-satunya cara tepat yang memungkinkan manusia menghidupi hndividualitasnya. Itulah sebabnya dengan mengutip perkataan Dostoyevsky, Sartre berkata, “Jika Tuhan tidak ada, segala sesuatu akan menjadi mungkin.” Manusia akan lepas dari cengkeraman kebenaran-kebenaran yang diproduksi dari luar, bebas dari beragam determinasi religius-etis dan menjadi tuan atas dirinya sendiri.
Dengan konsep ini, humanisme Sartrian sebetulnya melaunching hakikat manusia sebagai makhluk yang bebas. Manusia menggenggam dalam tangannya sendiri kebebasan untuk menentukan hidupnya. Dalam arti ini, kebebasan yang dimaksud Sartre tidak melulu berupa kondisi bebas dari tekanan dan determinasi, tetapi juga keleluasaan di dalam menjalankan tanggung jawab dan tindakan yang perlu bagi kemanusiaannya. Manusia selalu berupa aksi dan kreasi merealisasikan diri. “Ia tidak dapat lain selain serangkaian tindakan dengan dirinya sebagai rangkaian, organisasi, sekumpulan relasi yang menetapkan tindakan-tindakan ini”, begitu kata Sartre. Menentang tuduhan para komunis, Sartre menampilkan model manusia eksistensialnya sebagai manusia yang tidak berkubang dalam quetisme, tetapi bergerak maju merealisasikan diri. Manusia seperti ini memiliki komitmen-diri (self-commitment) atas kehidupannya dan karena itu selalu melibatkan dirinya melalui pilihan tindakan-tindakan subyektifnya.

Manusia versi Sartre memang bukan manusia yang cukup-diri. Kehadirannya selalu merupakan proyek yang belum tuntas terselesaikan. Nilai dan makna dari kemanusiaan manusia senantiasa ditentukan oleh setiap pilihan yang dibuat dan komitmen yang dijalani. Sehingga segala hal untuk, katakanlah kesempurnaan bagaimana menjadi manusia, sebetulnya terletak sepenuhnya pada manusia. Tetapi dengan ini Sartre tidak memaksudkan pandangan humanisme tradisional yang menempatkan manusia sebagai tujuan dari dirinya sendiri atau manusia sebagai nilai tertinggi. Sebab kemudian Sartre mengkonsepkan adanya tujuan-tujuan transenden yang pencapaiannya dimungkinkan oleh sifat manusia sebagai makhluk yang mampu melampaui dirinya (self-surpassing). Pelampauan atau transendensi ini tidak terarah pada tujuan tertentu seperti halnya dalam bahasa kristianitas,‘keserupaan dengan Allah’ atau ‘keselamatan kekal’. Manusia hanya perlu berupaya menyempurnakan kesadarannya sebagai manusia bebas dan bahwa keberlangsungannya bergantung sepenuhnya pada totalitas tindakan yang dipilihnya setiap hari. Dengan begitu manusia memang memberi jaminan untuk kehidupannya sendiri.

Kritik dan Aktualitasnya
1. Pembuktian Ketidakadaan Tuhan
Eksistensialisme ateistik Sartre memang telah memberangus keberadaan Tuhan. Secara eksplisit Sartre berujar bahwa gagasan “Jika Tuhan tidak ada, segala sesuatu menjadi mungkin” merupakan poin awal yang penting bagi proyek eksistensialismenya. Ini berarti segala konsep tentang manusia sebagai ‘adalah’, ‘individu yang bebas’, ‘proyek yang tak pernah selesai’, ‘yang menentukan hidupnya sendiri’ merupakan buah dari pemberangusan Tuhan. Manusia sedemikian terisolir, sendirian, terlempar begitu saja ke dalam dunia dan karena itu memikul tanggung jawab besar untuk realisasi kemanusiaannya. Sebuah gambaran yang diandaikan tidak akan tercipta bila Sartre tidak menendang Tuhan jauh-jauh.
Dalam konteks ini penulis menilai bahwa Sartre sebetulnya tidak memberikan argumen yang adequat tentang ketidakadaan Tuhan. Sartre hanya menempatkan ketidakadaan Tuhan sebagai kondisi atau proposisi yang perlu untuk melegitimasi rangkaian konsepnya tentang subjektivisme manusia. Baginya ketiadaan Tuhan harus menjadi alasan yang mutlak perlu untuk menunjukkan kemandirian dan otonomitas absolut manusia atas hidupnya sendiri. Dengan tidak diikat oleh sistem nilai dan norma religius-etis, manusia sangat berpeluang mengaktivasi kebebasan dan tanggung jawab individual, merakit nilai-nilai secara selektif untuk kepentingannya saja tanpa perlu menanggung beban nilai produksi eksternal. Tapi bukankah dengan merampas legitimitas kebenaran tertinggi dari Sang Tuhan, Sartre merancang relativisasi kebenaran? Kebenaran menjadi sedemikian subjektif dan dalam hal ini argumen nilai tanggung jawab manusia pada sesamanya melalui pilihannya menjadi tidak dapat dipertanggungjawabkan lagi. Jika misalnya kodrat kebernilaian manusia direlativisir, bagaimana mungkin Sartre menjadi sedemikian naif dengan merelakan pembasmian atas hak hidup sesamanya entah dalam perang atau aborsi dengan mengatasnamakan kebenaran subjektif belaka?
Sartre adalah anak zamannya. Ia hidup di tengah berkecamuknya perang dunia II, bergelut dengan perdebatan politik seputar dekolonialisasi Aljazair dan berkecimpung dalam upaya menelusuri jejak-jejak kekejaman Nazi Jerman. Kenyataan penderitaan dan kematian banyak manusia barangkali menjadi alasan bagi penendangan Tuhan dan segala sistem normanya. Sartre tidak mendapatkan kepastian kehadiran Tuhan di tengah situasi eksistensial seperti itu. Jika Tuhan dan agamanya tidak bertindak apapun maka di tangan manusialah perubahan itu semestinya dimulai. Manusialah yang mesti menentukan nasib dan keselamatannya sendiri. Itulah arti terdalam dari menjadi manusia.
Setiap fenomena eksistensial macam kecemasan, penderitaan dan kematian oleh bencana dan perang misalnya, memang menjadi saat-saat menentukan bagi manusia dan disposisi keberimananya pada Tuhan yang disembahnya. Seperti Sartre orang bisa menjadi sedemikian yakin bahwa Tuhan yang terkesan pendiam dan cuek itu tidak benar-benar ada. Tuhan hanyalah ciptaan, produk ketidaksanggupan manusia menentukan hidupnya sendiri. Pada titik ini Sөren Kierkegaard, seorang eksistensialis Kristen tampil mencerahkan kita melalui konsep ‘kebenaran sebagai subjektivitasnya’. Untuk dapat beriman kepada Tuhan, manusia perlu melakukan lompatan iman, bergerak mengatasi segala ketidakmungkinan mendapatkan kepastian objektif tentang Tuhan. Dengan kata lain, beriman tidak mengisyratkan secara mutlak kebenaran objektif tentang keberadaan Tuhan sebab itu berada di luar kompetensi manusia sebagai yang terbatas. Manusia hanya cukup memeluk keyakinan subjektifnya bahwa Tuhan ada dan selanjutnya menghidupi keyakinan itu dengan penuh hasrat dalam kesehariannya.

2. Pemaknaan Kebebasan
Sartre begitu mendewa-dewakan kebebasan.Kebebasan menjadi unsur konstitutif eksistensi manusia, hal yang memungkinkan realisasi-diri dan pemaknaan kehidupannya. Tetapi menjadi terlalu naif ketika Sartre merangkum totalitas manusia sebagai kebebasan. Pandangan ini sedemikian ilusif sebab hampir tak pernah ada kebebasan yang murni. Dalam kajian para strukturalis macam Jacques Lacan misalnya, manusia sejak kecil telah direnggut oleh sistem sosial, dikuasai oleh bahasa orang tua, disituasikan dan ditentukan oleh nama dan beragam peran sosial yang diembannya. Maka dalam konteks ini, pemaknaan kebebasan Sartrian mesti menemukan artikulasinya yang realistis.
Di masa sekarang, keseharian manusia ditandai oleh himpitan interpelatif beragam citra dan makna terberi yang diproduksi oleh sistem-sistem massa. Kehadiran media komunikasi massa macam televisi dan internet berikut segala tampilannya entah gambar, iklan, sinetron ataupun jejaring sosial sungguh merangsang reduktifikasi pemaknaan kemanusiaan. Orang ramai-ramai mengidentifikasikan diri dengan artis-artis idolanya, dengan karakter yang diproduksi sinetron dan film, atau melalui modus konsumsi mereka berupaya mengasimilasi makna yang melekat erat di balik materi atau gaya hidup tertentu. Bukankah kesadaran diri ini menjadi sedemikian manipulatif sebab lahir sebagai produk determinasi struktur sosial belaka?
Sartre tentu akan menggugat pemaknaan manusia yang artifisial seperti ini. Manusia selalu berada dalam proses dan karena itu apa-apa yang digumuli dalam dunia tidak pernah memberikan keselesaian bagi proses pergumulannya. Manusia tidak dapat didefinisikan secara terbatas sebab manusia adalah totalitas tindakan dan pergumulannya di sepanjang hidupnya. Maka konsep kebebasan Sartre menawarkan penciptaan ruang terus-menerus bagi kreasi dan kreativitas memberi makna bagi kemanusiaan manusia dengan membebaskan diri dari belenggu pencitraan sosial. Manusia selalu terbuka pada kemungkinan-kemungkinan, tidak cukup-diri, tetapi selalu terjun ke dalam pergumulan dengan menggenggam komitmen merengkuh kesadaran bahwa dirinya ikut bertanggung jawab(untuk tidak jatuh pada subjektivitas Sartrian yang terkesan tertutup dan antroposentrik) atas eksistensinya sebagai manusia dan sosialitasnya.
Kajian konsep Sartre tentang manusia merupakan tema yang sebetulnya kaya pun dalam hal implikasinya. Pembahasan paper ini mungkin sangat terbatas sebab hanya merupakan upaya meneropong konsep Sartre dalam bukunya, Existensialism is a Humanism. Maka kajian ‘manusia menurut Jean-Paul Satre” senantiasa terbuka bagi eksplorasi lanjut melalui perspektif karya-karya eksistensialismenya yang lain.


Referensi


Sabtu, 27 Mei 2017

Hakekat Manusia menurut August Comte



3 TAHAP PERADABAN MANUSIA MENURUT AUGUSTE COMTE

Auguste Comte (Nama panjang: Isidore Marie Auguste François Xavier Comte; lahir di Montpellier, Perancis, 17 Januari 1798 – meninggal di Paris, Perancis, 5 September 1857 pada umur 59 tahun) adalah seorang filsuf Perancis yang dikenal karena memperkenalkan bidang ilmu sosiologi serta aliran positivisme. Melalui prinsip positivisme, Comte membangun dasar yang digunakan oleh akademisi saat ini yaitu pengaplikasian metode ilmiah dalam ilmu sosial sebagai sarana dalam memperoleh kebenaran.

Tahap-tahap pemikiran manusia menurut comte perkembangan manusia dibagi kedalam 3 tahap perkembangan yaitu yang pertama tahap teologik, kemudian berkembang ke tahap metafisika, dan akan berkembang ketahap yang terakhir yaitu tahap positif.

1.     TAHAP TEOLOGIK
 Tahap teologik bersifat melekatkan manusia kepada selain manusia seperti alam atau apa yang ada dibaliknya. Pada zaman ini atau tahap ini seseorang mengarahkan rohnya pada hakikat batiniah segala sesuatu, kepada sebab pertama, dan tujuan terahir segala sesuatu. Menurutnya benda-benda pada zaman ini merupakan ungkapan dari supernaturalisme, bermula dari suatu faham yang mempercayai adanya kekuatan magis dibenda-benda tertentu, ini adalah tahap teologis yang paling primitif. kemudian mempercayai pada banyak Tuhan, saat itu orang menurunkan hal-hal tertentu seluruhnya masing-masing diturunkannya dari suatu kekuatan adikodrati, yang melatar belakanginya, sedemikian rupa, sehingga tiap kawasan gejala-gejala memiliki dewa-dewanya sendiri. Dan kemudian menjadi monoteisme ini adalah suatu tahap tertinggi yang mana saat itu manusia menyatukan Tuhan-Tuhannya menjadi satu tokoh tertinggi. Ini adalah abad monarkhi dan kekuasaan mutlak. Ini menurutnya adalah abad kekanak-kanakan.

2.     TAHAP METAFISIK
 
Tahap metafisik sebenarnya merupakan suatu masa dimana disini adalah masa perubahan dari masa teologik, dimana pada masa teologik tersebut seseorang hanya percaya pada satu doktrin saja dan tidak mencoba untuk mengkritisinya. Dan ketika manusia mencapai tahap metafisika ia mulai bertanya-tanya dan mulai untuk mencari bukti-bukti yang nyata terhadap pandangan suatu doktrin. Tahap metafisik menggunakan kekuatan atau bukti yang nyata yang dapat berhubungan langsungdengan manusia. Ini adalah abad nasionalisme dan kedaulatan umum sudah mulai tampak, atau sring kali tahap ini disebut sebagai abad remaja.


3.     TAHAP POSITIF

Tahap positif  berusaha untuk menemukan hubungan seragam dalam gejala. Pada tahap ini seseorang tahu bahwa tiada gunanya untuk mempertanyakan atau pengetahuan yang mutlak, baik secara teologis ataupun secara metafisika. Pada tahap ini orang berusaha untuk menemukan hukum dari segala sesuatu dari berbagi eksperimen yang pada akhirnya akan menghasilan fakta-fakta ilmiah, terbukti dan dapat dipertanggung jawabkan. Pada tahap ini menerangkan berarti: fakta-fakta yang khusus dihubungkan dengan suatu fakta umum. Tahap ini menurut Comte adalah suatu tahap yang berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat manusia, bahkan berlaku bagi setiap masing-masing individu itu sendiri. Ketika seorang masih perpandangan teologis berarti ia masih berfikiran kuno/ketinggalan zaman walaupun ia hidup dizaman yang modern. Dan ketika orang berfikiran realitas/nyata maka dia dapat sebagai seorang yang modern walaupun dimana saja mereka berada. Pendapat ini jika dilihat dari sudut pandangnya akan lebih
menjurus kepada tahap dalam keyakinan hati manusia.


Sumber : http://www.kompasiana.com/annajwa/bagaimana-pemikiran-filsafat-positivisme-menurut-auguste-comte_552921bf6ea83462668b459e

Selasa, 16 Mei 2017

Nietzsche

Manusia dan Kehendak untuk Berkuasa

 

Konsep kehendak untuk berkuasa (the will to power) adalah salah satu konsep yang paling banyak menarik perhatian dari pemikiran Nietzsche.[1] Dengan konsep ini ia bisa dikategorikan sebagai seorang pemikir naturalistik (naturalistic thinker), yakni yang melihat manusia tidak lebih dari sekedar insting-insting alamiahnya (natural instincts) yang mirip dengan hewan, maupun mahluk hidup lainnya. Nietzsche dengan jelas menyatakan penolakannya pada berbagai konsep filsafat tradisional, seperti kehendak bebas (free will), substansi (substance), kesatuan, jiwa, dan sebagainya. Ia mengajak kita memandang diri kita sendiri sebagai manusia dengan cara-cara baru. Sebagaimana dicatat oleh Porter, ada tiga konsep dasar yang mewarnai seluruh pemikiran Nietzsche, yakni penerimaan total pada kontradiksi hidup (1), proses transendensi insting-insting alamiah manusia (2), dan cara memandang realitas yang menyeluruh (wholism) (3).[2] Pemikiran tentang kehendak untuk berkuasa terselip serta tersebar di dalam tulisan-tulisannya sebagai fragmen-fragmen yang terpecah, dan seolah tak punya hubungan yang cukup jelas. Dari semua fragmen tersebut, menurut Porter, setidaknya ada tiga pengertian dasar tentang kehendak untuk berkuasa, yakni kehendak untuk berkuasa sebagai abstraksi dari realitas (1), sebagai aspek terdalam sekaligus tertinggi dari realitas (the nature of reality) (2), dan sebagai realitas itu sendiri apa adanya (reality as such) (3).   
Ketiga makna itu bisa disingkat dalam rumusan berikut, sebagai hakekat terdalam dari alam semesta beserta dengan geraknya yang dilihat dari sisinya yang paling gelap. Dalam bahasa Nietzsche kehendak untuk berkuasa adalah “klaim kekuasaan yang paling tiranik, tak punya pertimbangan, dan tak dapat dihancurkan.”[3] Bisa dikatakan ketika berbicara tentang kehendak untuk berkuasa, Nietzsche berubah menjadi seorang filsuf monistik, yang melihat realitas tersusun dari satu unsur terdalam (fundamental aspect) yang menentukan segalanya. Unsur terdalam itulah yang disebutnya sebagai kehendak untuk berkuasa. Ini adalah gambaran intuitif realistik tentang realitas kehidupan manusia, dan kehidupan alam semesta pada umumnya. Dorongan ini tidak dapat ditahan, apalagi dimusnahkan, karena segala sesuatu yang ada berasal dari padanya. Jadi seluruh realitas ini, dan segala yang ada di dalamnya, adalah ledakan sekaligus bentuk lain dari kehendak untuk berkuasa. Ia ada di dalam kesadaran sekaligus ketidaksadaran manusia. Ia ada di dalam aspek intelektual sekaligus instingtual manusia. Kehendak untuk berkuasa adalah dorongan yang mempengaruhi sekaligus membentuk apapun yang ada, sekaligus merupakan hasil dari semua proses-proses realitas itu sendiri.[4] Semua ini terjadi tanpa ada satu sosok yang disebut sebagai pencipta, atau subyek agung. Semua ini adalah gerak realitas itu sendiri yang berjalan mekanis, tanpa pencipta dan tanpa arah.
Bagi Nietzsche dunia adalah sesuatu yang hampa. Dunia tak memiliki pencipta, namun bisa hadir dan berkembang dengan kekuatannya sendiri. Di dalam dunia semacam ini, tidak ada pengetahuan obyektif. Yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan adalah subyektivitas (subjectivity) dan kemampuan untuk menafsir (interpretation). Dua hal ini menurut Nietzsche lahir dari kehendak untuk berkuasa itu sendiri.[5] Dengan subyektivitas dan kemampuan untuk menafsir, manusia bisa melihat hubungan sebab akibat (causality) di dalam dunia. Dengan dua kemampuan ini, manusia bisa menempatkan diri, sekaligus menempatkan benda-benda yang ada di dalam dunia pada tempat yang semestinya. Kehendak untuk berkuasa mendorong manusia untuk menjadi subyek yang aktif di dalam menjalani hidup, sekaligus menjadi penafsir dunia yang memberi makna (meaning) atasnya. Dengan kehendak untuk berkuasa, manusia bisa menciptakan dan menata dunia. Dalam arti ini dunia adalah tempat yang bukan-manusia (inhuman). Dunia menjadi bermakna karena manusia, dengan subyektivitas serta kemampuannya menafsir, memberinya makna, dan menjadikannya “manusiawi” (human).
Nietzsche terkenal sebagai filsuf yang melihat dunia secara positif. Ia menyarankan supaya kita memeluk dunia, dengan segala aspeknya, dan merayakan kehidupan. Dunia dan kehidupan adalah suatu permainan yang tidak memiliki kebenaran, tidak memiliki awal, serta selalu terbuka untuk dimaknai dan ditafsirkan. Dunia bukanlah melulu milik manusia untuk dikuasai dan digunakan, melainkan memiliki nilai pada dirinya sendiri. Dengan kata lain dunia memiliki nilai kosmik, dan tak semata antropomorfik. Manusia harus belajar melihat alam tidak melulu dari kaca matanya sendiri, tetapi juga dari kaca mata alam itu sendiri. Dari kaca mata alam, kehidupan ini sendiri adalah kehendak untuk berkuasa. Maka kehendak berkuasa adalah “afirmasi yang penuh suka cita pada hidup itu sendiri.”[6] Hidup memang tak bertujuan dan tak memiliki nilai. Namun manusia diminta untuk menerima dan merayakannya sepenuh hati.
Sebagai bagian dari dunia yang dimotori kehendak untuk berkuasa, manusia pun tidak lagi dipandang sebagai mahluk rasional, melainkan sebagai mahluk yang hidup dengan rasa dan sensasi-sensasi (sensational being) yang diterimanya dari dunia. Sensasi itu mendorong manusia untuk mencipta dunia (world-creating activity). Jadi karena dikelilingi oleh kehendak untuk berkuasa, manusia pun terdorong untuk mencipta dunia. Tindak mencipta dianggap sebagai dorongan alamiah, dan bahkan kebutuhan eksistensial manusia. Dalam arti ini manusia bukanlah subyek seutuhnya, karena ia adalah bentuk konkret saja dari kehendak untuk berkuasa. Manusia adalah subyek yang bukan subyek. Manusia dan dunia adalah cerminan dari kehendak untuk berkuasa. Pemahaman Nietzsche tentang ini didapatkan dari pola berpikir metafisisnya, bahwa hakekat dari sesuatu bisa dilihat dari efek-efek yang ditimbulkannya. Hakekat dari dunia dan manusia adalah efek-efek yang ditimbulkannya, yakni penciptaan. Penciptaan hanya mungkin jika entitas tersebut memiliki kuasa.
Pemikiran Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa bukanlah sebuah pandangan dunia yang sistematis (systematic worldview). Konsep ini lebih merupakan upayanya untuk menyibak berbagai situasi di dalam dunia, dan menemukan apa yang menjadi dasar dari semuanya. Maka konsep ini tidak bisa diperlakukan sebagai konsep metafisika tradisional, entah sebagai arche di dalam filsafat Yunani Kuno, atau substansi.[7] Menurut Porter konsep kehendak berkuasa, yang dirumuskan oleh Nietzsche, adalah sebuah simbol dari kegagalan manusia untuk memahami hakekat terdalam dari realitas. Artinya pengetahuan manusia itu terbatas, sehingga tak mampu untuk memahami dunia seutuhnya. Dalam konteks ini Nietzsche kemudian menawarkan sebuah pemahaman yang lebih “puitis” tentang hakekat dunia yang memang tak bisa sepenuhnya tertangkap oleh akal budi manusia.[8] Konsep kehendak untuk berkuasa tidak lahir dari penalaran rasional, tetapi dari imajinasi manusia yang melihat dan tinggal di dalam dunia. Bisa dibilang bahwa Nietzsche hendak melepaskan logos sebagai alat utama manusia untuk memahami dunia, dan menawarkan penjelasan mitologis (mythological explanation) yang lebih imajinatif, deskriptif, dan kaya di dalam memahami dunia. Akal budi (reason) menyempitkan dunia, sementara imajinasi dan rasa menangkap kerumitannya, dan merayakannya.
Nietzsche sendiri tidak pernah menyatakan, bahwa konsepnya tentang kehendak untuk berkuasa adalah suatu mitos. Konsep ini lahir dan berkembang, ketika ia membahas pemikiran Schopenhauer, bahwa dunia adalah representasi dari kehendak dan ide manusia (world as will and representation).[9] Walaupun begitu kita tetap harus membedakan model berpikir dari dua filsuf besar ini. Nietzsche melihat dunia sebagai kehendak untuk berkuasa, namun bersikap optimis, dan memilih untuk merayakan kehidupan dengan segala kerumitannya. Sementara Schopenhauer melihat dunia sebagai kehendak buta, bersikap pesimis, serta memilih untuk melarikan diri darinya.[10] Dua sikap ini pada hemat saya juga dapat digunakan untuk memahami mentalitas manusia jaman ini di dalam memandang kehidupan.[11] Di tengah kehidupan yang tak selalu jelas, ada orang yang memilih untuk putus asa, dan kemudian bunuh diri, atau melarikan diri ke berbagai “candu”. Namun ada pula orang yang menanggapi semua itu dengan berani, dan bahkan merayakan absurditas kehidupan itu sendiri. Sikap yang terakhir inilah yang disarankan oleh Nietzsche.
Konsep kehendak untuk berkuasa memang bersifat ambigu, dan mengundang banyak tafsiran. Di satu sisi kehendak untuk berkuasa adalah inti sari filsafat Nietzsche, yang mencakup sikap merayakan hidup dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya, dan keberpihakan ada energi-energi mabuk khas Dionysian yang selama ini ditekan oleh agama dan moral tradisional. Di sisi lain konsep itu juga bisa dilihat sebagai simbol dari kritiknya terhadap modernitas, yang dianggap telah menyempitkan kekayaan diri manusia semata pada akal budinya, dan telah memasung manusia menjadi subyek yang patuh pada tata hukum dan moral yang mengikat daya-daya hidupnya. Pada hemat saya dengan konsep kehendak untuk berkuasa, Nietzsche ingin membongkar kemunafikan manusia modern, yang walaupun merindukan dan menghasrati kekuasaan, berpura-pura menolaknya, karena alasan-alasan moral. Penolakan ini menciptakan ketegangan di dalam diri manusia, karena ia sedang melawan dorongan alamiahnya sendiri. Ia menolak kekuasaan namun menghasratinya. Tegangan yang tak terselesaikan ini menghasilkan kemunafikan-kemunafikan yang amat gampang ditemukan di dalam kehidupan sehari-hari manusia. Nietzsche mengajak kita untuk menerima diri kita apa adanya, tidak menolak, atau bahkan mengutuk, apa yang sesungguhnya merupakan dorongan alamiah kita sebagai manusia, yakni kekuasaan.[12] Dengan penerimaan semacam ini, kekuasaan tidak lagi menjadi destruktif, tetapi bisa didorong sebagai kekuatan untuk mencipta.

 Sumber :
Reza A.A Wattimena

 

Rabu, 19 April 2017

Arthur Schopenhauer




Arthur Schopenhauer lahir di Danzig (sekarang Gdańsk). Dia adalah putra dari Heinrich Floris Schopenhauer dan Johanna Schopenhauer. Kedua orang tuannya adalah keturunan orang kaya Jerman dan keluarga bangsawan. Beliaupun kuliah di Universitas Göttingen pada tahun 1809
Arthur hadir sebagai reaksi terhadap filsafat Hegel, ia berpendapat bahwa rasionalitas dan kebermaknaan Ada tersebut; dasar ada tidak lagi rasional, melainkan irasional, dan tidak berbentuk kesadaran melainkan ketidaksadaran. Karya utama yang membuat beliau begitu terkenal adalah “Die Welt als Wille und Vorstellung” bermula dengan penilaian tentang hakekat dan batas-batas pemahaman, tetapi tidak dengan pernyataan-pernyataan dogmatis tentang prinsip-prinsip metafisika.
Ajaran-ajaran Arthur Schopenhauer yaitu :
1)     Dunia Sebagai Ide/Gambaran

Schopenhauer membuka buku The World as Will and Representation-nya dengan kalimat, “The World is my idea” menurut beliau , benda yang dapat kita kenal adalah gambaran representasinya. Saya sangat menyukai kutipan kata beliau the world is my ide karena dengan adanya dunia kita banyak mengelurkan ide-ide untuk bertahan hidup dan sebagainya.

 

2)     Kehendak Hidup

Kehendak adalah esensi dari kehidupan ini, kita hanya dapat mengenal dunia sesuai penampilannya kepada kita. Untuk dapat mengenal dunia, kita tidak mempunyai jalan masuk ke sana. Hanya ada satu pintu dan pintu itu adalah kehendak. Menurut Schopenhauer, kehendak itu bisa dimanifestasikan sebagai tubuh kita. Jadi, kita melihat representasi dunia dengan tubuh kita. Sebelum kita melangkah kepada pembahasan yang lebih jauh, terlebih dahulu kita melihat apa yang melatar belakangi pemikiran tersebut.

 

3)     Keselamatan dari Penderitaan Eksistensi

Bagi Schopenhauer, realitas adalah kehendak itu sendiri spiritual, bukan material - tetapi kehendak adalah penderitaan. Manusia terus-menerus berkehendak, terus berpindah dari kehendak satu ke kehendak yang lain. Menurut Schopenhauer, jalan keselamatan adalah Hindu. Penolakan terhadap nafsu, menghilangkan kehendak, membebaskan manusia dari ilusi dan penderitaan. Menurut saya itu tidak lah benar bukanya manusia akan hidup apabila mempunyai sesuatu yang hendak ia capai apabila semua tidak memiliki kehendak maka ia kan menjadi pemalas,tidak optimis,dan tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam hidupnya.

4)     Moralitas

Menurut Schopenhauer, pada dasarnya manusia itu egois. Egoisme itulah yang melahirkan penderitaan.olah karena itu kita harus mempunyai sifat altruism karena seperti yang Schopenhauer katakan egois hanya melahirkan penderitaan dan hidup akan jauh lebih bermakna apabila kita mempunyai sifat altruism.

 

5)     Schopenhauer, Seks, dan Psikoanalisis

Bagi Schopenhauer, seks adalah “penegasan terhadap kehendak yang paling kuat. Itu kehendak hidupnya yang final dan tujuannya yang paling tinggi”. Oleh karena itu Schopenhauer memandang kelamin sebagai “fokus yang riil dalam kehendak”. Sifat uniknya adalah ia selalu melihat orang lain dengan curiga dan sinis serta kesan umum atas hidup adalah Pesimistik yang tak tergantikan. Hal tersebut tidak menjadikan Ia kehilangan rasa nikmat di dalam banyak hal, antara lain: musik, makanan, anggur, perjalanan, dan tamasya. Ketika merasa bosan, ia akan terlihat gembira dan hidup

 

6)     Keputusan dan Hukuman

Schopenhauer menjelaskan seseorang yang hendak mengambil keputusan. Menurut dia, ketika kita mengambil keputusan, kita akan diperhadapkan dengan berbagai macam akibat. Oleh sebab itu, keputusan yang diambil memiliki alasan atau dasar. Keputusan-keputusan ini menjadi tidak bebas lagi bagi si pemilihnya. Pemilih itu harus diperhadapkan kepada beberapa akibat dalam sebuah keputusan. Segala tindakan yang dilakukan seseorang merupakan kebutuhan dan tanggung jawabnya. Tetapi hal itu yang justru membuat manusia menjadi lebih dewasa dan berhati-hati dalam mengambil sebuah keputusan. Karena pada dasar nya keputusan yang kita ambil pasti akan berdampak entah dalam hidup kita atau pun orang lain jadi alangkah lebih baik nya jika kita memikirkannya terlebih dahulu setiap keputusan kita.

 

Daftar Pustaka :

http://kampusbebeck.blogspot.com/2011/01/arthur-schopenhauer-musik-sebagai-seni.html

https://grelovejogja.wordpress.com/2009/12/31/profil-arthur-schopenhauer-1788-%E2%80%93-1860/

Minggu, 02 April 2017

Pokok-Pokok Pemikiran Rene Descartes

                                POKOK-POKOK PIKIRAN RENE DESCARTES

Rene Descartes adalah seorang filsusuf berkebangsaan Perancis dan beragama katholik sekaligus penganut bid’ah Galileo yang pada waktu itu masih ditentang oleh tokoh-tokoh gereja. Rene Descartes lahir di La Haye, Perancis 31 Maret 1959. Rene Descartes sering disebut sebagai “Bapak Filsafat Modern”, menurut Bertnand Russel gelar itu diberikan kepada Descartes karena dialah orang pertama pada zaman modern yang membangun filsafat yang berdiri di atas keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan rasional Karyanya yang terpenting adalah Discours de la method (1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641). Kedua buku ini saling melengkapi satu sama lain. Di dalam kedua buku ini ia menuangkan metodenya yang terkenal yaitu metode keraguan Descartes (Cartesian Doubt) atau sering disebut cogito Descartes.
Rene Descartes memiliki pokok-pokok pikiran dalam filsafat, antara lain:
1 .    Cogito Ergo Sum
Ia berusaha mendapatkan pengetahuan yang tidak dapat diragukan. Untuk menemukan basis yang kuat dalam filsafat, ia meragukan terlebih dahulu segala sesuatu yang diragukan dan ia menyimpulkan bahwa 3 pengetahuan dapat diragukan, yaitu:
a.     Pengetahuan yang berasal dari pengalaman inderawi dapat diragukan
Contoh: memasukkan kayu lurus ke dalam air, kayu tersebut tampak bengkok
b.     Fakta umum tentang dunia
Contoh: api itu panas, benda yang berat akan jatuh juga dapat diragukan. Descartes menyatakan bagaimana jika kita mengalami mimpi yang sama berkali-kali dan dari sana kita mendapatkan pengetahuan umum tersebut.
c.     Logika dan matematika, prinsip-prinsip logika dan matematika juga dapat diragukan.
Contoh: bagaimana jika ada suatu makhluk yang berkuasa memasukkan ilusi dalam pikiran kita, dengan kata lain kita berada dalam suatu matriks.
Berdasarkan keraguan tersebut, Descartes mengeluarkan pendapat yaitu cogito ergo sum (aku berfikir, maka aku ada).
2.     Ide-ide bawaan
Karena kesaksian apapun dari luar tidak dapat dipercaya, maka menurut Descartes ia harus mencari kebenaran dalam dirinya dengan menggunakan norma dan jika metoda dilangsungkan apakah hasilnya. Descartes berpendapat bahwa dalam dirinya dapat ditemukan tiga “ide bawaan”. Ia merasa ketiga ini sudah ada dalam dirinya sejak lahir masing-masing ialah pemikiran, Tuhan, dan keluasan.
a.     Pemikiran
Sebab saya memahami diri saya sebagai makhluk yang berfikir, harus diteruma juga bahwa pemikiran merupakan hakikat saya.
b.     Tuhan sebagai wujud yang sama sekali sempurna
Karena saya mempunyai ide sempurna, mesti ada suatu penyebab sempurna untuk ide itu karena akibat tidak bisa melebihi penyebabnya. Wujud yang sempurna itu tidak lain daripada Tuhan.
c.     Keluasan
Materi sebagai keluasan atau ekstensi, sebagaimana hal itu dilukiskan dan dipelajari oleh ahli-ahli ilmu ukur.
3.     Substansi
Descartes menyimpulkan bahwa selain Tuhan, ada dua subtansi:
a.     Pertama, jiwa yang hakikatnya adalah pemikiran.
b.     Kedua, materi yang hakikatnya adalah keluasan
Akan tetapi, karena Descartes telah menyangsikan adanya dunia di luar aku, ia mengalami banyak kesulitan untuk membuktikan keberadaannya. Bagi Descartes, satu-satunya alasan untuk menerima adanya dunia materil ialah bahwa Tuhan akan menipu saya kalau sekiranya ia memberi say aide keluasan, sedangkan di luar tidak ada sesuatu pun yang sesuai dengannya. Dengan demikian, keberadaan yang sempurna yang ada di luar saya tidak akan menemui saya, artinya ada dunia meteril lain yang keberadaannya tidak diragukan, bahkan sempurna.
4.     Manusia
   Descartes memandang manusia sebagai makhluk dualitas. Manusia terdiri dari dua sebstansi, yaitu jiwa dan tubuh. Jiwa adalah pemikiran dan tubuh adalah keluasan. Sebenarnya, tubuh tidak lain dari suatu mesin yang dijalankan oleh jiwa. Karena setiap substansi yang satu sama sekali terpisah dari substansi yang lain, sudah nyata bahwa Descartes menganut suatu dualisme tentang manusia. Itulah sebabnya, Descartes mempunyai banyak kesulitan untuk mengartikan pengaruh tubuh atas jiwa dan sebaliknya, pengaruh jiwa atas tubuh. Satu kali ia mengatakan bahwa kontak antara tubuh dan jiwa berlangsung dalam grandula pinealis. Akan tetapi, akhirnya pemecahan ini tidak memadai bagi Descartes sendiri.


SUMBER
http://azimatus.blogspot.co.id/2016/02/pemikiran-descartes-1596-1650.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Ren%C3%A9_Descartes
http://kharirotunnadhrohs.blogspot.co.id/2013/06/pemikiran-rene-descartes.html
http://www.academia.edu/7411507/Tokoh_Filsafat_Modern_Rene_Descartes_Cogito_Ergo_Sum

Minggu, 08 Januari 2017

Let's Not Fall In Love

Aku terus mencari dan mencari
dan akhir nya langkah ku terhenti disini karna kamu.
kau berdiri disini memberi kan aku sebuah hal yg sulit dijelaskan.

hanya ada kamu dan aku.
itulah yg sekarang terjadi
tetapi bisa Kah kita tidak usah saling mencintai ??
aku takut salah satu dari kita akan terluka
aku takut akan ada air mata di antara kita nanti nya.

tetap seperti ini hanya bersenang senang tanpa sebuah status.
apa lah arti sebuah status jika hanya akan membuat kita terluka.

Ku mohon jangan perjelas perasaan mu terhadap ku karna itu hanya membuat ku menjauh dari mu.
ia tetap seperti ini.
saling bersenang senang menghabiskan kan waktu bersama tanpa takut ada sebuah kata perpisahan yg keluar dari bibir kita.

Senin, 12 Desember 2016

berikan aku satu kesempatan untuk membuat mu menyukai ku

mencintai mu adalah pilihan ku.
Dan melupakan mu adalah kemaun ku.

tetapi kenapa aku hanya bisa mencintai mu? sedangkan melupakan mu bagaikan menghitung bintang di langit yang tiada habis nya.

Aku tidak pernah menyesal mencintai mu yang aku sesal kan hanya lah kenapa aku tidak bisa menerima bahwa cinta mu bukan lah untuk ku.

aku mencoba untuk melakukan hal  apa saja untuk bisa melupakan mu.
seperti melakukan kegiatan yang aku suka.
pergi bersama teman teman.
menyibukan diri dengan bekerja keras.
bahkan waktu untuk merehat kan diri ku pun saja sampai tidak ada.

silih berganti orang datang di hidup ku
bukan aku tidak pernah mencoba memulai bab baru dan mencoba untuk mencintai kembali.
tetapi percaya lah kamu masih tetap yg terbaik dalam hal membuat ku jatuh cinta

aku tidak mengerti lagi harus bagaimana
aku terus memikir kan mu..
aku tahu aku egois tetapi apakah kau tidak terlalu egois juga membuat ku jatuh cinta tanpa membalas cinta ku.

setidak nya kau memberi kan aku satu kesempatan untuk membuat mu menyukai ku juga.
benar satu kesempatan saja untuk ku itu sudah cukup.
hanya satu kesempatan.
Dan ku harap suatu saat kau akan memberikan aku kesempatan itu.
maka aku akan membuat mu melihat arti sebuah cinta yang tulus.